PALEMBANG - Meski optimisme mengawang tinggi, bek sayap Sriwijaya FC Isnan Ali mewanti-wanti timnya agar tidak keburu jumawa. Sebab sang lawan, Arema Indonesia, dikenal memiliki bekal permainan kolektif yang terpadu.
Isnan memberi sinyal penjagaan ketat, man to man marking, untuk pergerakan duet striker Roman Chamelo dan Noh Alam Shah bin Kamarezaman.
Khususnya, yang patut diwaspadai naluri liar di kepala dan kaki Noh Alam Shah. Striker impor berpaspor Singapura yang mencantumkan namanya dalam deret 10 Besar topskor sementara lewat rekor sembilan gol. Gaya mainnya pantang menyerah cenderung beringasan. Tapi kekerasan fighting-spirit, ditunjang sedikit liukan persis duplikat sang mentor – Fandi Ahmad – sewaktu muda.
“Motivasi kami makin meningkat setelah dua kali menang di kandang,” sela Isnan. Bek sayap timnas Indonesia asal Makassar yang selama ini pengisi reguler pos sayap kiri dengan modal bakat kidal itu bertekad membalas kekalahan 0-3 di pertandingan pertama.
Bagaimana performa sang seteru?
Sejak ditangani coach Robert Albert, rerata 1,3 gol per laga tercetak ke gawang lawan. Produktivitas gol berbanding rata-rata 0,3 kali kebobolan per pertandingan. Alhasil, tim berjuluk Singo Edan dari Kota Apel merekor jumlah sebelas kemasukan gol, paling sedikit di antara 18 tim Liga Super Indonesia 2010.
“Anak-anak sengaja saya liburkan sejak kami kalah dari Persib Bandung. Satu angka mungkin hasil yang baik karena target kami tidak kehilangan poin,” tukas Albert.
Dia berkata tak gentar, meski SFC diisi banyak pemain mapan. Sedangkan skuadnya sendiri hanya mengandalkan para pemain muda. Kalah kualitas, diakuinya, tapi pelatih asal Belanda itu yakin mampu meladeni keampuhan tuan rumah.
Satu saja soalnya. Di Jakabaring, tak jauh dari kilometer nol, segalanya bisa terjadi. Asal jangan tuah Jakabaring yang akhirnya bicara atas nama nasib. Si Albert mungkin belum tahu apa itu tuah. (acf)