INSIDEN kekerasan lagi-lagi menimpa wasit sepakbola Indonesia. Muzair Usman dan Jusman dianiaya saat memimpin pertandingan di Bolaang Mongondow, Kamis (13/11/2008). Inikah saatnya kita menyalakan lampu merah di persimpangan jalan sepakbola Indonesia?
Berkaca ke belakang, sejarah perwasitan di Tanah Air berlangsung tak lama setelah diproklamirkannya kemerdekaan. Indonesia langsung punya beberapa wasit sepakbola yang diakui secara internasional. Salah satu di antaranya, yaitu Joppie de Fretes asal Manado.
Namun lambat-laun pengaruh kotor mewarnai blantika persepakbolaan domestik. Suap dan judi jadi ladang candu yang terhampar di lapangan hijau, meski secara sembunyi-sembunyi dan dalam rahasia.
Dekade 70 dan 80'an kompetisi Liga Sepakbola Utama (Galatama) yang disebut "universitasnya sepakbola nasional" digemparkan temuan kriminil hasil investigasi kepolisian. Disinyalir merebak praktik haram berupa skandal pengaturan skor pertandingan. Kaslan Rosidi, pemilik klub Cahaya Kita, sempat menjalani proses pemeriksaan sebagai tersangka bersama seorang bandar asal Malaysia.
Beberapa oknum pemain Timnas Indonesia ikut tersangkut. Mereka dijerat skorsing sebagai ganjaran atas pelanggaran disiplin organisasi.
Satu dekade berselang, Jafar Umar diisukan beberapa kalangan bagai sosok Godfather yang kerap memotong jatah honor koleganya. Selama itu ditengarai Jafar, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komisi Wasit PSSI, memegang satu tangan besi kekuasaan untuk menggilir siapa saja wasit yang bertugas memimpin pertandingan.
Dia dikatakan sering minta bayar. Sebuah balasan yang tak wajar atas wibawa otoritasnya.
Buntutnya, wasit FIFA itu sempat dicopot dari jabatannya dalam struktur kepengurusan PSSI. Dia diadukan ke polisi. Tapi akhirnya segala prasangka negatif tidak terbukti.
Umar wasit seperti kapal karam di laut gelap sepakbola. Jadi, sebelum karir dan nasib beberapa wasit lain, termasuk Muzair Usman dan Jusman, juga tenggelam menyusul kapal tua itu, Badan Wasit Sepakbola Indonesia (BWSI) mungkin perlu digugah. BWSI secepatnya menegakkan kewibawaan supaya wasit dapat disegani dalam aras pertandingan, baik oleh pemain, pengurus klub, maupun penonton.
BWSI mungkin butuh empat pasang earphone agar komunikasi antara wasit, dua hakim, dan pengawas pertandingan bisa berlangsung sinkron demi meminimalkan pertanyaan emosional-ngawur-kontroversial seputar keputusan yang diambil. Sebuah kotak suara layaknya black-box rekaman pembicaraan pilot-kopilot selama penerbangan, tentu berfungsi merekam komunikasi trio pengadil sepanjang durasi 2x45 menit (plus 2x15 dan adu penalti).
Atau BWSI sudah punya platform untuk melakukan sterilisasi wasit yang jelas-jelas merupakan sosok sentral pemimpin pertandingan bagi sebuah pertandingan sepakbola? (fmh)